Cerita sex dengan mertua – Nilam adalah bekas istri sepupuku yang bercerai karena setelah setahun menikah keduanya sudah tidak saling cocok lagi. Maklum, mereka menikah masih sangat muda, Nilam 20 tahun sedang sepupuku 22 tahun. Ditambah lagi kedua orang tua sepupuku kurang menyukai Nilam karena sekalipun cantik tapi Nilam dianggapnya bukan berasal dari keluarga ningrat. Setelah bercerai Nilam semula bekerja di Panti Pijit tapi hanya sebentar sebelum dia mendapat pekerjaan sebagai staf administrasi di sebuah kantor Swasta. Karena dia memang cantik maka cepat saja dia dapat menarik hati seorang pemuda yang cukup kaya. Mas Indra nama pemuda itu, anak dari Direktur perusahaan itu yang tergila-gila pada Nilam. Akan tetapi yang pertama kali tertarik pada Nilam justru Pak Bondan, ayah Mas Indra. Laki-laki yang pernah menjadi langganan pijit Nilam ini rupanya ada hati pada janda cantik ini dan dialah yang membujuk Nilam untuk bekerja sebagai staf di kantornya.
Nilam sendiri tidak mengira bahwa Mas Indra nekat melamarnya sebagai istri tapi meskipun kurang sreg diterima juga lamaran itu karena Mas Indra orangnya cukup ramah sehingga Nilam juga cukup senang. Apalagi berikutnya dia juga sangat dimanja sekali oleh kedua mertua barunya di mana dia diajak tinggal serumah. Tapi, justru karena kelewat akrab dan manja teristimewa dengan Pak Bondan mertua lakinya maka terjadilah kontak terlarang di antara keduanya.
Pak Bondan adalah seorang pengusaha yang cukup kaya. Perusahaannya ada dua dan untuk mengawasinya dia berkantor di sebuah rumah yang disewa tepat di sebelah kiri rumah tinggalnya sendiri, sedang di sebelah kanannya lagi adalah rumah yang diperuntukkan bagi pasangan Mas Indra dan Nilam. Sementara itu Bu Bondan mengusahakan sebuah Mini market yang juga tidak jauh dari situ.Melihat dari kesibukan tugas masing-masing keluarga maka Nilam memang lebih banyak waktu berdua dengan Pak Bondan. Karena selain masih tetap meneruskan bekerja di kantor Pak Bondan, Nilam juga boleh dibilang tinggal serumah dengan Boss yang sudah jadi mertuanya ini. Masing-masing rumah mereka hanya dibatasi oleh dinding dan ada pintu penghubung yang selalu terbuka diantaranya. Nah, selain kesempatan selalu bertemu yang leluasa, juga sikap manja-manja genit Nilam kepada mertua lakinya yang kalau sedang bercanda berdua sudah meningkat bebas terlupa batas sampai saling berpeluk-pelukan, tentu saja memancing nafsu birahi terpendam sang mertua kepada menantunya ini. Maklum kebiasaan genit terpengaruh lingkungan Panti Pijit masih melekat pada Nilam, teristimewa kepada laki-laki setengah umur seusia Pak Bondan.
Gairah kelelakian Pak Bondan yang terpendam kepada Nilam memang menuntut karena sang menantu makin dipandang makin menggiurkan saja. Ditahan makin lama makin meluap dan ketika dicoba mengutarakannya dengan memancing-mancing sambil mengobral banyak pemberian nampaknya tidak ada penolakan dari Nilam, dengan sendirinya kelanjutan ke arah hubungan terlarang ini menjadi semakin mulus.
Tidak bisa disalahkan, Nilam yang latar belakangnya binal kalau sudah terlalu dekat apalagi sudah terlalu banyak dibanjiri hadiah sang mertua, maka kesadarannya pun cepat saja jadi buntu ketika itu. Jelas, karena sebenarnya bukan baru dimulai saat itu saja tapi dari awalnya Nilam memang sudah diincar oleh Pak Bondan dan Nilam sendiri juga sudah menaruh perasaan tertarik kepada bossnya yang simpatik ini. Cuma saja karena keburu diserobot duluan oleh Mas Indra yang lebih ngotot maka perasaan hati keduanya sempat tersendat dan sekarang mulai terungkit kembali. Menggelegak semakin hari semakin matang sampai kemudian di suatu sore yang merupakan penentuan ketika Pak Bondan mencoba sedikit nekat untuk menangkap menantu cantik ini dalam pelukannya tapi kali ini disertai dengan menyosor bibir Nilam.
“Hffmm.. hghh..” Nilam mengejang tersumbat mulutnya oleh lumatan nafsu Pak Bondan tapi begitupun dia tidak berontak. Ada beberapa saat dia ikut terhanyut dalam asyiknya berciuman bergelut lidah dan ketika cukup untuk saling melepas, terlihat air mukanya merah merona.
“Bapak nekatt..” komentarnya malu-malu geli.
“Abisnya kamu ngegemesin Bapak sih..”
Itu awal pertama percobaan Pak Bondan. Tentu saja melihat ada lampu hijau seperti ini jelas membuatnya lebih berani lagi. Dia sudah mulai mencari simpati dengan cerita tentang Bu Bondan yang mulai kurang memberinya kebutuhan penyaluran seks. Dan ternyata meskipun tidak terucapkan tapi dari mimik wajah Nilam tertangkap oleh Pak Bondan bahwa sang menantu ini mulai terpengaruh prihatin kepadanya. Terbukti ketika pada kesempatan hari berikutnya dia mengulang lagi memeluk dan mengajak berciuman tapi kali ini sambil sebelah tangannya menggerayangi bagian-bagian kewanitaan Nilam, mulai dari kedua susunya sampai kemudian menyusup ke selangkangan, meremas gemas bukit vaginanya, lagi-lagi tidak ada penolakan dari sang menantu cantik ini. Seperti yang pertama Nilam juga membiarkan sebentar dan ikut terhanyut oleh ajakan berciuman yang hangat bernafsu ini, hanya saja ketika terasa akan terlupa daratan segera dia minta melepas ciuman.
“Pak jangan sekarang.. Nilam takut kalo ketauan..” bisiknya cemas karena sudah terasa jari nakal Pak Bondan menyusup mengorek-ngorek di celah kemaluan di bagian klitorisnya. Mendapat peringatan ini Pak Bondan pun seperti tersadar dan melepaskan Nilam.
“Heehh.. nanti kalau ada kesempatan Bapak ke kamarmu, ya?” katanya masih sempat memesan.
Nilam hanya mengiyakan dan segera berlalu dari situ meninggalkan Pak Bondan yang meskipun masih nampak penasaran tapi dalam hatinya lega karena yakin bahwa pada kesempatan berikut tentu dia pasti dapat meniduri menantu cantik ini.
Suatu hari Mas Indra akan dinas keluar kota, pagi-pagi buta itu Nilam sudah kembali naik tidur setelah mengantar Mas Indra cuma sampai di pintu kamar untuk berangkat ke airport. Membanting tubuhnya lemas karena Mas Indra masih sempat mengajaknya bermain cinta sesaat sebelum berangkat.Ketika setengah layap-layap itulah dia dihampiri Pak Bondan yang masuk ke kamarnya tanpa sepengetahuannya. Begitu datang Pak Bondan yang rupanya sudah lama menunggu kesempatan baik ini langsung ikut naik berbaring dan mulai menggerayangi tubuh Nilam yang masih bertelanjang bulat dan hanya menutupi tubuh atasnya dengan sehelai kain. Nilam sempat mengira bahwa itu Mas Indra lagi tapi segera tersadar karena perbedaan yang nyata di antara kedua lelaki itu. Mas Indra agak kecil sedang Pak Bondan yang pendek itu besar gempal tubuhnya. Nilam jadi kaget.
“Ehh Bapakk?! kaget aku Paak.. kirain siapa.”
“Ah masak sama Bapak nggak kenal, kan Bapak sudah pernah bilang mau nyusul ke sini kalo ada kesempatan.”
“Abis nggak kedengaran masuknya, tapi Ibu mana Pak?” kata Nilam yang karena merasa tidak bisa menghindar lagi, dia bergerak bangun maksudnya akan mencuci dulu bekas-bekas dengan Mas Indra.
“Ibu masih pules, nggak bakalan tau kalau Bapak ke sini..” tukas Pak Bondan yang rupanya sudah tidak sabaran lagi langsung menahan Nilam bangun.
Tanpa memberi kesempatan bicara bagi Nilam, dia sudah menyerbu perempuan itu dengan bernafsu. Mencium langsung melumat bibirnya sambil dibarengi remasan-remasan gemas di mana pun bagian tubuh sang menantu yang cantik menggiurkan ini terpegang tangannya. Nilam gelagapan sesaat, tapi lagi-lagi dia mengalah mencoba mengerti emosi nafsu laki-laki setengah umur yang menurut pengakuan kepadanya sudah jarang diberi penyaluran seks oleh istrinya. Pasrah saja dia membiarkan Pak Bondan dan malah ikut mengimbangi lumatan laki-laki itu sama bernafsunya meskipun kelanjutannya agak membuat risih juga karena serbuan-serbuan Pak Bondan benar-benar kelewat rakus. Dari saling bertemu bibir ciuman Pak Bondan menurun melanda kedua susunya, di sini hanya berhenti beberapa saat untuk mengisap kedua puncak bukit kembar itu dan sebentar menjilati putingnya lalu kemudian diteruskan lebih ke bawah melewati perut Nilam yang sudah menggembung empat bulan itu sampai kemudian mendarat di vaginanya.
Ini yang agak terasa kurang sreg bagi Nilam karena Pak Bondan seperti pura-pura lupa bahwa lubang itu masih belum sempat dicucinya, tapi dia enak saja mengerjai bagian itu dengan jilatan-jilatannya bahkan juga disedot-sedotnya. Mau dia mencegah tapi Pak Bondan masih lebih ngotot di situ malah semakin coba ditolak, semakin keras juga Pak Bondan bertahan. Terpaksa Nilam diam saja sampai akhirnya dia sendiri terbawa tidak perduli karena vaginanya yang dikerjai mulut lelaki memang merangsang nafsunya dengan cepat.
“Aasshhg.. hngghh.. sshhg..” kontan melintir, bergeliat-geliat dia oleh kilikan jilatan di klitorisnya yang begitu menggelitik geli-geli enak dan sodokan-sodokan ujung lidah di lubangnya yang begitu membuatnya penasaran, sementara Pak Bondan tambah bersemangat memainkan kepintaran mulutnya. Menyosor seolah-olah ingin menyembunyikan wajahnya tenggelam di lubang menganga milik menantunya ini. Padahal Nilam baru saja terpuaskan dalam sanggama bersama Mas Indra, tapi rangsangan sang mertua ini begitu luar biasa menaikkan kembali birahi nafsunya seolah-olah tenaga untuk bercinta datang berlipat ganda. Masih beberapa saat Pak Bondan membakar bara nafsu Nilam, baru ketika dilihatnya sang menantu cantik ini sudah matang dituntut birahinya di situlah Pak Bondan berhenti dan mempersiapkan batangannya. Sudah cukup tegang, tinggal membasahi sedikit dengan ludahnya untuk kemudian dituntun menempel di mulut lubang, langsung ditusuk masuk.
“Hhgghh..” sekali lagi Nilam mengejang kali ini oleh sodokan penis Pak Bondan. Tapi karena sudah cukup siap dia bisa langsung menerima batang yang sebenarnya masih asing baginya. Malah tuntutannya kepingin cepat terpenuhi, dia pun ikut menyambut dengan memutar pantatnya membuat batang Pak Bondan terasa seperti disedot masuk, cepat saja amblas ke mulut vagina yang lapar itu. Tapi begitu tertanam dalam, mulutnya langsung menganga kaku menahan pinggang Pak Bondan agar sodokan jangan berlanjut dan ini dipenuhi Pak Bondan karena memang batangnya sudah tertanam habis. Menunggu sesaat sampai Nilam kelihatan sudah agak mengendor barulah Pak Bondan menyambung dengan gerak memompa keluar masuk penisnya pelan-pelan.
Nilam sendiri masih sedikit tegang wajahnya dalam usaha menyesuaikan diri dengan sodokan-sodokan Pak Bondan tapi cuma sebentar, karena rasa baru yang diterimanya cepat saja membuainya, sama cepat seperti barusan dia dirangsang mulut Pak Bondan di vaginanya. Ada yang luar biasa pada milik mertuanya ini sehingga Nilam mengalihkan pandangannya ke bawah ingin lebih jelas apa yang menjadi penyebabnya. Karena bukan hanya bisa membuat daya rangsangan yang begitu besar dengan teknik mulutnya tapi juga memberi pemenuhan yang pas untuk tuntutannya. Yaitu dari dalamnya batang yang menyumbat lubang vaginanya terasa ukurannya agak berlebih dari yang biasa dialaminya dengan Mas Indra.
Pak Bondan bisa membaca pikiran Nilam. Dia merenggang sedikit dan mencabut batangnya agak panjang memberi kesempatan Nilam memperhatikannya. Meskipun tidak terlalu jelas karena ruangan hanya diterangi lampu dinding kecil tapi masih bisa tertangkap mata Nilam yang begitu melihat langsung meringis wajahnya.
“Hhssh Bapaakk.. dalemm bangett Paak..” spontan keluar komentar kagumnya memaksudkan penis Pak Bondan yang memang lebih panjang meskipun tidak lebih besar dari milik Mas Indra. Memang, Nilam sudah pernah tidur dengan beberapa lelaki tapi dia mengakui juga ukuran penis sang mertua yang cukup mantap ini.
“He.ehh.. tapi kan nggak sakit?” kata Pak Bondan sambil menurunkan tubuhnya agak menempel karena khawatir dengan ukuran panjangnya ini Nilam berubah pikiran minta batal sampai di sini. Padahal tidak perlu. Nilam cuma berkomentar bukan berarti ngeri. Justru dia merasa batang itu memberi keasyikan lebih dengan ukurannya yang tidak seperti biasa didapat dari suaminya. Terbukti ketika Pak Bondan mulai menggesek baru dua tiga gerakan ternyata sudah mendapat sambutan menyenangkan dari si cantik yang segera jadi bergairah merangkul leher Pak Bondan berikut kedua kakinya naik membelit paha sebagai tanda bahwa dia menyukai disetubuhi penis Pak Bondan ini.
Inipun jelas terbaca dari mimik muka Nilam, malah tidak sungkan-sungkan mengutarakannya ketika dipancing Pak Bondan yang karena cukup berpengalaman jelas bisa membaca gelagat Nilam.
“Gimana rasanya.. sakit nggak?”
“Nggak.. enak malah Pak, geli sampe ke dalem-dalem sini.” jawabnya sambil mengusap-usap perut atasnya.
“Apanya yang enak?”
“Ngg.. kontoll Bapak..” jawab Nilam genit-genit senang.
Mendengar ini tentu saja Pak Bondan jadi lega dan leluasa sudah dia bermain menggoyang penisnya yang disambut Nilam dengan juga mengimbangi mengocok vaginanya. Masing-masing tenggelam menikmati asyiknya senggama dalam suasana yang cepat sekali akrab, sama-sama lupa tentang status hubungan mereka antara anak menantu dan mertuanya.
Memang ada perbedaan pada kedua lelaki lawan mainnya ini. Bersama Mas Indra seperti masih ada gengsi-gengsian yang membatasinya kurang begitu saling terbuka, tapi dengan Pak Bondan biarpun baru kali ini, entah mungkin karena Nilam sudah biasa bermanja-manja dengan pengalaman lalunya yang umumnya laki-laki tua berduit dan bersikap kebapakan, maka rasanya dia tidak sungkan-sungkan dan malu lagi mengutarakan apa yang dialaminya saat ini, teristimewa waktu mencapai orgasmenya yang diikuti juga oleh Pak Bondan.
“Paak ennakk Paak.. Iyya.. Duhh Bapaak dalem bangett masuknya Paakk.. Aaa.. dikorek-korek gitu Nilam pengenn kluarrin.. Ayyo Pakk.. adduuh.. Iyya ayyo aahhgh.. sshgh.. hghrf.. ennaak punyamu Lass.. Bapakk juga kluaarr.. sshmmh..”
Tapi hubungan lama-lama semakin nekat. Tidak hanya waktu suasana rumah sepi tapi sekalipun suaminya sedang ada di rumah pun Nilam berani juga mencuri-curi waktu bercinta dengan Pak Bondan.Ceritanya hari itu menjelang maghrib Mas Indra sudah berdua dengan Nilam di dalam kamar ketika tidak lama kemudian Pak Bondan pulang dari kerjanya. Seperti biasa Bu Bondan baru akan pulang dari mini marketnya menjelang larut malam. Kedua pasangan muda itu sudah akan bermain cinta, masing-masing sudah saling terangsang dan baru saja akan mulai tiba-tiba terdengar pintu kamar diketok. Spontan Nilam terburu-buru berpakaian dan keluar dari kamar, ternyata Pak Bondan yang ada di depan situ. Dia rupanya akan meminta pijit dari Nilam tapi ketika diberi tahu bahwa Mas Indra sedang ada di kamar, Pak Bondan pun membatalkan niatnya.
Masuk ke kamar lagi Nilam langsung tersenyum geli kepada Mas Indra.
“Barusan Bapak yang ngetok pintu. Dia minta tolong dipijitin tapi begitu kukasih tau Mas masih ada di kamar, Bapak jadi batal.”
“Oh ya? Ya udah, ke sana aja dulu pijetin Bapak, nanti baru ke sini lagi kan juga masih sore.”
“Idih Mas gimana sih. Masak aku musti ke sana duluan, lalu Mas sendiri gimana dong?”
“Nggak gitu, soalnya barusan kan Bapak mungkin lagi pegel minta dipijit, kalo kamu nggak ngikutin kan nggak enak jadinya.”
Mendengar ini Nilam berlagak pasang muka ragu sebentar tapi kemudian beranjak juga.
“Mas sih bukannya tadi-tadi ngasihnya.. Awas lho kalo aku dateng lagi Mas nggak mau ngasih, aku marah beneran.” katanya dengan mimik muka cemberut tapi sebenarnya dalam hati girang bukan main.
“Nggak usah kuatir, pasti Mas kasih kalo kamu abis dari sana.”
Bukan main, gayanya seperti berat terpaksa tapi sebenarnya inilah yang diharapkan Nilam. Karena begitu menyusul Pak Bondan di kamarnya dia sudah langsung meloncat dan memeluk dengan wajah girang. Pak Bondan sendiri baru selesai membuka bajunya tinggal celana dalam dan masih berdiri di samping tempat tidur ketika itu.
“Lo, lo, lo, kok cepet sekali ke sininya. Gimana bilangnya sama Indra?” tanya Pak Bondan heran.
“Las bilang aja terus terang barusan Bapak manggil minta dipijetin jadi Mas Indra ngasih ijin ke sini.”
“Oh ya? Bukannya Bapak tadi liat kamu lagi kusut, baru mau maen apa udah selesai?”
“Tadinya emang mau maen, tapi baru mau dimasukin udah keburu Bapak ngetok pintu..”
“Waduh maaf kalo gitu. Lagi kepengen-kepengennya langsung disetop begitu kan penasaran.”
“Malah kebeneran Pak.. kan terusannya bisa dapet ini yang lebih mantep lagi.” kata Nilam sambil menjulurkan tangannya meremasi penis Pak Bondan.
“Jadi, lobang yang lagi penasaran ini sekarang malah mau dikasih Bapak dulu, ya?” tanya lagi Pak Bondan dengan membalas meremasi gundukan vagina Nilam.
“Iya, iya Paak.. di situ yang aku kepengenn sekalli..” baru diremas sebentar saja, Nilam yang memang sedang terangsang penasaran sudah langsung gemetaran suaranya, “Ayoo Pak.. buka juga Bappak punya..” lanjutnya dengan terburu-buru melepas bajunya.
Pak Bondan menyusul hanya tinggal melepas celana dalamnya tapi Nilam sudah lebih dulu selesai. Dan baru saja penis Pak Bondan bebas Nilam sudah berlutut, menangkap batang itu langsung mencaplok mengisap-isapnya dengan rakus. Diserbu rangsangan begini batang itu cepat saja mengeras dan Nilam seperti tidak ingin membuang-buang waktu. Dia naik duluan menelentang dan mengangkang memasang vaginanya siap untuk segera dimasuki. Sampai di bagian ini semua memang bisa serba cepat tapi pada giliran batang akan dimasukkan mau tidak mau tempo harus diperlambat. Sebab meskipun sudah terbiasa tapi penis ukuran lebih besar dari suaminya ini tetap saja tidak bisa langsung main tancap sekaligus. Perlu hati-hati dan harus ada kerja sama untuk saling menggesek dan memutar membuat lebih licin dalam beberapa waktu, sekalipun rahang Nilam sudah gemetaran kaku menunggu lewatnya masa itu sebelum mendapatkan rasanya. Tapi kalau batang sudah tertancap dalam dan Nilam sudah bisa menyesuaikan ukurannya. Hmm.. jangan bilang lagi nikmatnya. Langsung gayanya berubah kontras sewaktu mulai dipompa oleh Pak Bondan.
“Hhss.. aduuhh tobatt aku Paak.. hahgh ooghh.. kontol kok dalem sekali Pak.. tobat akuu.. ampun Bapaak, gedee sekalli aduuh.. Pakk..” Nada suara Nilam merintih-rintih mengaduh ampun tobat, ditambah lagi dengan gayanya yang meliuk-liuk mata terbalik seperti orang kesakitan, yang begini kalau didengar dan dilihat Mas Indra tentu akan menggiris karena mengira istrinya sudah tidak tahan disiksa oleh Pak Bondan. Apalagi kalau bisa melihat lebih jelas bagaimana kewanitaan sang istri yang sering diusapi sayang itu, sekarang sampai sudah dipaksa mekar membulat lantaran menampung besar keliling batang dan itu pun masih harus lagi disodok-sodok kasar seperti tidak mengenal belas kasihan. Tentu, kalau belum mengerti Mas Indra pasti tambah menggiris melihatnya. Padahal kebalikan dari ini justru Nilam sedang tenggelam dalam nikmat yang mengasyikan saat itu.
Pak Bondan sudah hafal benar gaya Nilam, makin dipompa keras makin dirasakan enak bagi Nilam, dan gaya ini juga malah menimbulkan rangsangan tersendiri bagi Pak Bondan untuk membawanya tiba menuju puncak permainan bersama Nilam. Terlebih kalau Nilam sudah meminta tambahan rangsangan baru di bagian susunya, itu tanda dia sudah akan mendekati orgasmenya. “Heg.. yaang kerass Pak.. shh iya gittu.. aduh.. sshgh.. heehh.. ayyo.. ayoo Paak.. aahgh.. sshgh.. Iyya Pakk Laas udah keluarr.. aduhh.. hghshh.. hrrgh..”
Seiring remasan tangan Pak Bondan di susunya diperkeras, Nilam pun tiba orgasmenya. Di bagian ini nampaknya lebih sadis lagi. Sebab buah dada yang biasanya diperlakukan Mas Indra dengan gemas-gemas sayang ini di tangan Pak Bondan diremasi tidak tanggung-tanggung lagi. Tidak ubahnya seperti sedang menggilas baju di papan cucian, kedua daging kenyal itu sampai meleot-leot sesekali mencuat putingnya dari sela-sela jari tangan besar Pak Bondan. Malah waktu mengiringi orgasmenya Nilam terlonjak-lonjak dengan dada membusung, di situ seolah-olah tubuhnya terangkat-angkat oleh tarikan Pak Bondan yang mencengkeram kedua bukit daging itu. Pokoknya jika bisa melihat secara keseluruhan bagaimana cara Pak Bondan mengasari istrinya, Mas Indra bisa pingsan dibuatnya. Tapi justru begini yang paling disukai Nilam karena dia merasa seolah-olah seluruh kepuasannya dibetot keluar tanpa tersisa.
Rupanya ‘kesadisan’ Pak Bondan belum selesai. Sesaat setelah Nilam selesai berorgasme maka giliran Pak Bondan yang mengambil bagiannya. Tapi menjelang tiba di saat ejakulasinya tiba-tiba dia mencabut batangnya dan langsung tegak berlutut sambil menarik kedua lengan Nilam membawanya terikut bangun duduk. Nilam sempat bingung tapi ketika Pak Bondan menjambak rambutnya dan menarik kepalanya mendekatkan ke penisnya, segera dia mengerti maksud Pak Bondan, apalagi Pak Bondan juga menjelaskan lewat kata-katanya. “Ayyo Las, isepin Bapak sampe keluarr..” Tanpa ragu-ragu Nilam langsung mencaplok dan melocok batang itu dengan mulutnya. Tentu tidak bisa semua, hanya tertampung bagian kepalanya saja tapi ini sudah cukup bagi Pak Bondan untuk bisa menyalurkan kepuasannya. Dan begitu kepala batang itu mengembang, sedetik kemudian dia pun menyemburkan cairan maninya tumpah di mulut Nilam. Agak tersekat Nilam dengan semprotan tiba-tiba ini, serasa ingin mencabut kepalanya tapi tangan Pak Bondan menekan kepalanya tidak ingin melepaskan kuluman mulutnya sehingga mani yang tumpah itu pun tertelan semua oleh Nilam. Ini baru pertama kali dia melakukan hal ini sehingga ketika permainan berakhir dan Nilam bisa melepas mulutnya, langsung meringis aneh mukanya.
“Kenapa Las, nggak enak ya rasanya?” tanya Pak Bondan geli.
“Asin rasanya Pak..” jawab Nilam terikut geli.
“Maaf ya? Terpaksa Bapak tumpahin di mulut, soalnya kalo di lobangmu nanti bisa ketauan sama Masmu.”
“Nggak pa-pa, sekali-sekali buat pengalaman baru kok..”
“Kalo sering-sering emang kenapa?”
“Ya bagaimana Bapak.. Emang enak sih dikeluarin pake mulut?” kata Nilam dengan bergerak bangun untuk ke kamar mandi mencuci bekas-bekas permainan ini.
“Oo.. sama Nilam sih pasti enak aja.” jawab Pak Bondan sambil ikut bangun menyusul Nilam.
Selepas beristirahat sebentar Nilam pun kembali ke kamarnya menemui suaminya. Tentu saja dengan bersandiwara seolah-olah dia tidak ada apa-apa dengan permainan bersama Pak Bondan. Begitu datang dia langsung menubruk Mas Indra dengan gaya tidak sabaran menggerayangi penis Mas Indra. Jelas gaya yang membuat Mas Indra bangga padahal justru yang terjadi kebalikannya, sebab barusan mengalami hal yang paling asyik kemudian turun ke yang biasa. Nilam dalam senggama berikutnya bersama Mas Indra hampir-hampir tidak ada rasanya sama sekali. Hanya gayanya saja yang tetap meyakinkan bahwa dia sudah terpuaskan dengan Mas Indra, tapi kecuali sempat terangsang sedikit Nilam tidak sampai mengalami orgasme dengan suaminya. Meskipun begitu dia tidak penasaran karena sudah terbayang sepeninggal Mas Indra besok pagi ke kantornya, dia akan minta lagi pada mertuanya untuk meluapkan kerinduannya.
Begitu, dalam enak dirasakannya bersetubuh dengan sang mertua yang punya batang panjang bisa mengilik jauh ke dalam rahimnya, Nilam praktis jadi ketagihan untuk mengulang setiap kali ada kesempatan bisa mencuri-curi.


